• Nayah Cawa

    Nayah Cawa

    Ini adalah obrolan ringan dengan pembahasan yang bisa…

  • Millitan

    Millitan

    Kenalan dulu yuk sama Mimi & Intan yang akan nemenin…

  • Love Your Life

    Love Your Life

    Podcast yang mengajak kamu untuk melihat hidup dengan…

  • Diksi

    Diksi

    Diksi, diskusi dan refleksi, sebuah program yang akan…

  • Me vs Science

    Me vs Science

    Me vs Science, kolaborasi ciamik Podme.id dengan…

  • Sepik Hukum

    Sepik Hukum

    Membahas hukum dan seputarnya dengan santai, mudah…

The Brandals (Part 2) | Dari Lingkar Labirin sampai Pretty Lies

The Brandals (Part 2) | Dari Lingkar Labirin sampai Pretty Lies

Karya-karya The Brandals terus dirayakan tanpa terkekang waktu. Menjadi anthem bagi mereka yang menghayati hidup kelas pekerja, atau jemaat rock & roll yang selalu butuh raungan gitar dan drum yang rancak, plus suguhan para personel karismatik. Dalam bagian kedua obrolan Shindu's Scoop bersama The Berandals ini, ada cerita di balik beberapa lagunya.

OTHER POD
  • Prof. Tjut Nyak Deviana | Membaca Musik Indonesia Hari Ini

    Prof. Tjut Nyak Deviana | Membaca Musik Indonesia Hari Ini

    Sejak sembilan tahun silam, 9 Maret dirayakan sebagai Hari Musik Nasional. Pada Hari Musik Nasional tahun ini, Shindu's Scoop merilis wawancara dengan Profesor Tjut Nyak Deviana, seorang pedagog yang pernah menjadi rektor perguruan tinggi musik di Jerman, dan turut menyusun kurikulum pendidikan tinggi musik di Jerman dan Swiss. 
    Kami mengarsipkan perspektif Prof. Deviana dalam membaca musik di Indonesia hari ini. Selama lebih dari satu jam, kami membahas persoalan plagiarisme yang mendarah daging, pendidikan yang semrawut, sampai korelasi musik dengan astrologi.
    Apa yang disampaikan Prof. Deviana patut dimaknai sebagai autokritik, melihat balok besar di pelupuk mata kita, yang mungkin seringkali kita abaikan dan semakin lama kita anggap sebagai sesuatu yang wajar meski kita tahu itu salah. 

  • Mengulas Album Indonesia Terbaik 2020

    Mengulas Album Indonesia Terbaik 2020

    Artikel album terbaik selalu menarik dibahas tiap tahun. Menimbulkan pro dan kontra, sekaligus polemik di kalangan penggemar musik. Di Indonesia sendiri, beberapa media cukup rutin merilis daftar album terbaik pada akhir tahun. Sebagai bentuk kanonisasi, apresiasi, sekaligus penanda zaman. Publikasi media tentang album terbaik tak jarang mengundang tanya, tentang apa saja parameter yang digunakan tiap redaksi, proses kurasi, dan lain sebagainya. Untuk itu, Shindu's Scoop menghadirkan enam jurnalis, yang mayoritas dari mereka terlibat dalam proses penentuan album terbaik pada medianya masing-masing. Mereka adalah jurnalis dari Detikcom, portal CNN Indonesia, harian Kompas, Agordiclub, kontributor Vice Indonesia, dan Pop Hari Ini. Para jurnalis ini menceritakan proses kurasi, hingga alasan mereka memilih album apa saja yang menurut media mereka layak dilabeli "terbaik".

  • David Bayu (Part 2) | Kilas Balik Perjalanan Naif

    David Bayu (Part 2) | Kilas Balik Perjalanan Naif

    David Bayu, vokalis Naif, menyempatkan waktu untuk berbincang dengan kami. Menjelaskan kabar terbaru dari Naif, membahas tentang rencananya melanjutkan karier solo, mengenang hal-hal konyol yang selalu mengundang tawa, dan cerita di balik lagu-lagu Naif.

  • David Bayu (Part 1) | Menjawab Rumor Naif Bubar

    David Bayu (Part 1) | Menjawab Rumor Naif Bubar

    Belakangan, Naif kembali jadi perbincangan. Band berusia seperempat abad ini mendadak tak aktif lagi di media sosial, tanpa rilisan baru sejak terakhir kali merilis album "7 Bidadari" pada 2017, dan tak menggelar penampilan apapun - terutama panggung virtual. Beragam tanya muncul di kepala, apa yang sebenarnya terjadi pada band terhormat ini?

    David Bayu, vokalis Naif, menyempatkan waktu untuk berbincang dengan kami. Menjelaskan kabar terbaru dari Naif, membahas tentang rencananya melanjutkan karier solo, mengenang hal-hal konyol yang selalu mengundang tawa, dan cerita di balik lagu-lagu Naif.

  • Cerita Lagu-Lagu Kla Project

    Cerita Lagu-Lagu Kla Project

    Tidak banyak musisi yang dikenang sebagai legenda, dan bahkan meninggalkan warisan karya yang terus dirayakan dan menjadi bagian penting dalam sejarah musik Indonesia.

    KLa Project adalah sedikit dari grup musik yang mampu merasakan bagaimana karyanya abadi, dan bahkan salah satu lagunya, "Yogyakarta", menjadi lagu bertema kota paling monumental yang pernah ditulis musisi Indonesia.

    Meski tanpa kehadiran Katon, gitaris Lilo dan keyboardist Adi penuh antusias menceritakan secuplik karya besar dan perjalanan mereka.

    Bagaimana lagu Yogyakarta, Tak Bisa Pindah ke Lain Hati, atau Gerimis tercipta? Dan bagaimana KLa Project selama lebih dari tiga dekade bertahan, meski sempat mengalami perpecahan?

    Saksikan pula penampilan @kla_project di @metrotv dalam program Konser Back to The 90's, yang akan tayang pada Jumat, 26 Februari 2021, pukul 20.05 WIB.

  • Eros Djarot (Part 2) | Mengupas Satu Per Satu Lagu di Album Badai Pasti Berlalu

    Eros Djarot (Part 2) | Mengupas Satu Per Satu Lagu di Album Badai Pasti Berlalu

    Setiap lagu di Album Badai Pasti Berlalu memiliki kekuatan tersendiri. Total, ada 13 lagu yang tercipta. Diantaranya, "Angin Malam", Khayalku", “Cintaku", “Badai Pasti Berlalu", “Semusim", “Pelangi", hingga “Merepih Alam". 

    Namun proses pembuatan lagu tersebut bukan tanpa kendala. Dari berbagai kesulitan tersebut lahirlah album yang disebut-sebut sebagai tonggak musik pop Tanah Air.

  • Eros Djarot (Part 1) | Di Balik Lahirnya Album Badai Pasti Berlalu

    Eros Djarot (Part 1) | Di Balik Lahirnya Album Badai Pasti Berlalu

    Album "Badai Pasti Berlalu" yang dirilis pada 1977 dianggap banyak kritikus dan media sebagai album Indonesia terbaik sepanjang masa. Seperti karya-karya besar lain, album "Badai Pasti Berlalu" menyimpan sejumlah kisah dramatis. Termasuk perselisihan yang terjadi antara para kreator album ini.

    Dalam episoden Shindu's Scoop kali ini, Eros Djarot menceritakan secara lugas bagaimana proses lahirnya Album Badai Pasti Berlalu

  • Dewa Budjana (Part 2) | Nyaris Keluar Dari Gigi

    Dewa Budjana (Part 2) | Nyaris Keluar Dari Gigi

    Sepertinya tak lengkap jika membicarakan Dewa Budjana tanpa menyinggung soal Gigi. Dan sepertinya tak berlebihan juga, jika menggap Dewa Budjana sebagai ruh band yang yang berusia 26 tahun ini. Namun tanpa disangka, Dewa Budjana pun nyaris ‘bercerai’ dengan Gigi.

    Selain di Gigi, Dewa Budjana menjadi sosok yang diperhitungkan di dunia internasional. Dalam album-album solo, Budjana seperti membentuk "supergroup" tingkat dunia. Album Mahandini contohnya, Budjana menggandeng keyboardist Dream Theater (Jordan Rudess), drummer asal Jerman Marco Minemann, bassist Mohini Dey asal India yang tengah mendominasi berbagai festival jazz internasional, serta gitaris Red Hot Chili Peppers (John Frusciante).

    Tradisi Dewa Budjana melibatkan musisi kelas dunia berlanjut hingga ke proyek terbarunya. Dia mengajak Simon Phillips yang pernah menjadi drummer untuk Toto dan The Who mengerjakan album yang akan dirilis pada 2021.

  • Dewa Budjana (Part 1) | Nyaris Keluar Dari Gigi

    Dewa Budjana (Part 1) | Nyaris Keluar Dari Gigi

    Sepertinya tak lengkap jika membicarakan Dewa Budjana tanpa menyinggung soal Gigi. Dan sepertinya tak berlebihan juga, jika menggap Dewa Budjana sebagai ruh band yang yang berusia 26 tahun ini. Namun tanpa disangka, Dewa Budjana pun nyaris ‘bercerai’ dengan Gigi.

    Selain di Gigi, Dewa Budjana menjadi sosok yang diperhitungkan di dunia internasional. Dalam album-album solo, Dewa Budjana seperti membentuk "supergroup" tingkat dunia. Album Mahandini contohnya, Dewa Budjana menggandeng keyboardist Dream Theater (Jordan Rudess), drummer asal Jerman Marco Minemann, bassist Mohini Dey asal India yang tengah mendominasi berbagai festival jazz internasional, serta gitaris Red Hot Chili Peppers (John Frusciante).

    Tradisi Dewa Budjana melibatkan musisi kelas dunia berlanjut hingga ke proyek terbarunya. Dia mengajak Simon Phillips yang pernah menjadi drummer untuk Toto dan The Who mengerjakan album yang akan dirilis pada 2021.

  • Mocca (Part 2) | Langkah Mocca Sampai di Negeri K-Pop

    Mocca (Part 2) | Langkah Mocca Sampai di Negeri K-Pop

    Kendati nyaris bubar, ternyata karya band asal Bandung ini telah berlabuh ditelinga warga Korea Selatan. Beberapa lagu @moccaofficial ternyata sudah dijadikan soundtrack film dan iklan di Korea Selatan.

    Bergeser sedikit ke negeri Sakura, MoccA sempat menandatangani kontrak dengan salah satu indie records di Jepang, Excellent Records, untuk mengisi satu lagu dalam album yang format rilisannya adalah kompilasi book set (3 Set) yang berjudul "Pop Renaisance"

    Di Tanah Air sendiri, band yang mengusung musik swing, bossa nova, pop dan jazz ini tak bisa dilepaskan dari siklus kebangkitan indie di Tahun 2000-an awal.

    Peluncuran album bertajuk "My Diary" (2002) meledak di pasaran. "Secret Admirer" dan "Me and My Boyfriend" menjadi hits di mana-mana. 

    Talk sampai di situ, video klip "Me and My Boyfriend" mendapat penghargaan sebagai "best video of the year" versi MTV Penghargan Musik Indonesia 2003.

    Dan hingga saat ini MoccA masih tetap produktif berkarya,  hal itu ditandai dengan peluncuran lagu terbaru MoccA, 
    berjudul Brand New Day", Jumat 20 November 2020.

    Siapkan kuota tambahanmu friend untuk mendengarkan obrolan tak berjarak dan mendalam beraam host karismatik dan berkarakter @shindualpito